(a) Tentang Ana
Pertama kali bertemu dengannya, kesan yang kuingat adalah, anaknya kecil, kurus dan ringkih. Awalnya kita nggak terlalu dekat, bahkan saat aku dikenalkan oleh pasangannya, dia terkesan nggak suka denganku. Mungkin dia pikir aku ini siapa-nya pasangannya.
Baru setelah dia dan pasangannya main ke tempatku, kita jadi dekat. Yang kutahu, dia sangat lugu dan normatif. Baginya, yang namanya kebaikan pasti akan menang dan dia selalu memimpikan dunia yang damai, tanpa perang, tanpa penindasan. Yang dia percaya adalah kekuatan Tuhan yang akan mewujudkan dunia seperti itu.
Beberapa kali mengusik otakku karena dalam diskusi-diskusi via sms yang kami lakukan, dia memang sangat normatif dan percaya kekuatan Tuhan. Sangat berbeda denganku. Tapi kemudian aku ga mempersoalkan itu karena memang tingkat pemahaman dan kesadaran orang berbeda-beda.
Kemudian kami putus komunikasi seiring dengan putusnya ‘hubungan’ pasangan kami berdua.
Tapi kemudian dia mencoba membangun kembali dengan mengundangku dan pasanganku ketemu. Aku inget betul, waktu itu di Sekaten kita ketemu. Dia cerita akan menikah. Lalu saat kita berpisah, dia memberiku sebuah gelang dari batu-batuan dan note yg bertuliskan ‘peace and love’.
Tapi sepertinya kami belum bisa memperbaiki komunikasi lagi seperti dulu. Mungkin karena masalah yang membuat putus ‘hubungan’ tersebut adalah masalah yang yang sensitif dan politis, jadi aku sendiri enggan membangun kembali. Aku benar-benar nggak mau mengingat luka lama 7 tahun lalu. Trauma. Mungkin itu yang terjadi denganku.
Dia tidak mengundangku ke pernikahannya. Yah, aku sih tidak mempersoalkan itu. Toh kebetulan pada saat hari H, aku dan pasanganku sama-sama tidak di Jogja, jadi kami berdua tidak datang.
Aku mulai berkomunikasi intens lagi dengannya sekitar awal 2008. Internet telah membuat kami dekat lagi. Bahkan hampir setiap hari kita chatting sampe kantor kita berdua tutup.
Dia mulai curhat tentang kehidupan pribadinya, tentang pernikahannya, tentang pekerjaan dan yang paling sering adalah tentang penyakitnya. Dia bilang kalo dia ga bisa hamil karena ada kista di indung telurnya. Sebagai sesama perempuan, aku benar-benar prihatin. Bagiku yang sudah tak peduli dengan patriarki saja masih sulit mensiasati masyarakat yang patriarkis. Apalagi bagi dia. Ketidakmampuan punya anak walaupun itu karena penyakit, pasti tetap saja menjadi beban bagi perempuan.
Aku agak kesal juga karena beberapa kali mendorongnya berobat di dokter, tapi dia bilang takut dengan alat-alat medis, jadi dia lebih suka mencari pengobatan alternatif. Padahal dia bilang sudah mengeluarkan banyak uang untuk pengobatan yang belum menampakkan hasil maksimal.
Tapi suatu hari dia bilang kalo kistanya sudah mengecil dan sekarang kembali bersemangat. Walau dia masih juga mengeluhkan sesuatu, kali ini tentang suaminya yang tak kunjung mendapat pekerjaan. Dan beberapa hal yang menurutku seharusnya tidak dia ceritakan padaku. Biarlah menjadi rahasia kita berdua.
Ada satu hal yang kemudian membuat kita benar-benar dekat. Kasus Tante T, yah benar.
Ceritanya, akhir 2007 ada temen yang meminta bantuanku untuk menjadi detektif. Temenku menemukan ada yang tidak beres dengan pasangannya. Awalnya, temenku nggak mau ambil pusing karena temenku berpikir akan belajar mempercayai pasangan. Temenku percaya pasangannya juga se-setia dia, se-cinta dia. Tapi nalurinya tak bisa dibohongi. Juga nalurinya sebagai seorang peneliti yang membuatnya menjadi sensitif data.
Dari data-data yang kukumpulkan, aku tau kalo pasangan temenku sudah “tergoda” orang lain, Tante T itu. Aku sebut Tante T karena memang dari segi usia, dia memang sudah pantes jadi Tante-tante.. Lalu aku ingat kalo Tante T itu temennya Ana. (Walaupun kemudian Ana bilang kalo dia bukan temen deket Tante T, karena Tante T kayaknya hanya manfaatin dia utk membantu skripsinya)
Jadilah kita selama beberapa hari berturut-turut saling mencocokkan data. Dia berkali-kali memohon maaf sama aku karena secara tidak sengaja telah ikut membantu si Tante untuk menghancurkan hubungan temenku dan pasangannya. Dia bilang ingin menebus kesalahannya dengan membantuku membongkar rencana jahat Tante T. Jadilah aku terkejut mendengar semua yang dia katakan. Dia juga cerita banyak tentang Tante T, dan yang paling menarik adalah cerita dia tentang berondong peliharaan Tante T. Hiks.. Ternyata..
Nggak hanya itu, dia juga memberiku daftar informan yang bisa kuhubungi untuk cross cek data yang dia bilang. Intinya, dia sangat membantuku.
Dari situ aku benar-benar menjadi dekat. Tapi kemudian dia sering banget ke luar kota dan jarang online sehingga kami jarang banget ngobrol lagi. Sempat dia cerita kalo suaminya dah dua minggu dirawat di RS karena radang tenggorokan dan sekarang kurus banget.
Lama nggak komunikasi, tiba-tiba di Hari Minggu, 8 Pebruari kemarin dia sms minta tolong. Aku langsung telp dia dan akhirnya dia cerita kalo suaminya sudah hampir sebulan dirawat di RS dan belum ada perkembangan, bahkan belum terdeteksi penyakitnya apa.
Dia minta tolong sama aku untu jenguk suaminya dan sebisa mungkin menjadi konselor bagi suaminya. Dia curiga kalo sakit yang diderita suaminya lebih karena psikis. Dia menduga ada sesuatu yang tidak suaminya ceritakan sama dia. Dia berpikir kalo akulah orang yang mungkin dekat dengan suaminya dan bisa membuat suaminya cerita. Huff.. Aku mendengar ada nada putus asa dalam suaranya. Dan aku berusaha meyakinkan dia kalo aku akan mencoba membantunya dan minta dia jangan banyak pikiran..
Kami akhirnya sering sms-an. Dia bilang kalo pasangannya menjadi semangat setelah aku dan kawan-kawan datang membesuk.. Sms terakhir darinya, hari Senin 16 Pebruari. Dia minta aku bawakan buku cerita lucu untuk suaminya. Lalu aku bilang ‘iya’, tapi aku blm ada waktu utk jenguk lagi.
Sabtu, 21 Pebruari, naluriku memberi dorongan agar aku menghubungi dia. Tapi karena aku ada agenda sampe sore dan akhirnya tertidur karena kecapean. Maka aku ga menghubunginya. Aku berniat hari Minggu akan menjenguk ke RS.
Tapi, malam pukul 01.00, aku dapat kabar kalo dia meninggal. Seperti disambar petir, aku benar-benar tidak percaya. Bagaimana mungkin, suaminya yang sakit, tapi dia yang meninggal?? Aku panik, mencoba menghubungi orang-orang utk cros cek berita, tapi ga ada satupun yang merespon.
Baru pada jam 03.00, ada sms dari keluarganya yang membenarkan berita tersebut. Aku bengong.. Antara bingung dan sedih, kehilangan.. penasaran apa sebenarnya penyebab kematiannya???
Aku mencoba menenangkan pasanganku yang aku yakin juga tak jauh berbeda denganku. Walau aku sendiri juga kalut tak menentu..
Akhirnya aku berangkat ke rumahnya yang jauhnya minta ampuunn..
Aku terdiam di pintu masuk rumahnya, nggak bisa berkata-kata saat melihat fotonya di dekat peti mati yang dikelilingi banyak orang yang mau berdoa.
Aku bengong.. Nggak bisa beranjak masuk dan juga nggak beranjak ke luar.. Ternyata benar, Ana telah pergi untuk selama-lamanya… Lalu aku mencoba duduk dan mencerna semua yang terjadi.
Salah seorang kerabatnya yang duduk di sebelahku bercerita tentang kronologi kematiannya. Ini yang kemudian membuatku gusar dan cukup mengganggu jiwa feminisku. Aku berkesimpulan kalo yang membuat –minimal menjadi pemicu kematiannya- adalah karena double burden, alias beban ganda perempuan. Hiks..
Aku berharap kalo itu semua hanyalah mimpi..
Sayangnya, ini bukan mimpi..
Selamat jalan Buw…
Aku yakin Tuhan sangat menerimamu dan memberimu tempat yang layak..